Indonesia Catat Lebih dari 2.600 Kejadian Bencana Alam di Tahun 2025
Pendahuluan
Tahun 2025 menegaskan sekali bahwa kondisi alam dan cuaca di Indonesia berada pada fase yang sangat dinamis dengan intensitas bencana alam yang tinggi dan dampak sosial‑ekonomi yang semakin besar. Data terbaru menunjukkan bahwa sepanjang tahun ini telah terjadi ribuan kejadian bencana alam: banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, longsor, gempa, hingga erupsi gunung api. Artikel ini hadir sebagai analisis menyeluruh, opini kritis dan refleksi dari sudut pandang jurnalis senior, tentang apa arti angka‑ini bagi sistem kesiapsiagaan kita, bagaimana masyarakat merespons, serta apa langkah strategis yang harus diambil untuk menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Latar Belakang: Keadaan dan Data Terkini
Jenis dan Jumlah Kejadian Bencana
Hingga akhir Oktober 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 2.600 kejadian bencana alam di Indonesia—angka yang menunjukkan bahwa hampir setiap hari terdapat lebih dari tujuh kejadian bencana dalam skala nasional. Data menyebutkan 1.289 kejadian banjir, 544 kejadian cuaca ekstrem, 511 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 189 tanah longsor, 22 gempa bumi, dan 4 erupsi gunung api. Dampaknya: 361 orang meninggal, 37 orang hilang, dan lebih dari 5,2 juta orang mengungsi; rumah dan fasilitas umum ribuan rusak.
Kedominan jenis bencana adalah hidrometeorologi (cuaca dan air) yaitu banjir, longsor, cuaca ekstrem yang menunjukkan bahwa perubahan iklim dan pola cuaca ekstrem memiliki pengaruh besar.
Lokasi, Musim, dan Pola Sering Terjadi
Wilayah‑wilayah yang sering terdampak antara lain Jawa Barat, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan, dan provinsi lain yang menghadapi karhutla atau banjir. Misalnya, Provinsi Sumatera Selatan melaporkan karhutla lebih dari 2.900 hektare hingga September, dengan status siaga darurat.
Musim hujan yang tidak menentu dan musim kemarau yang “basah” atau “kering ekstrem” menjadi faktor pemicu. Sebagai contoh, meskipun musim kemarau, masih banyak daerah yang mengalami banjir akibat hujan deras atau sistem drainase yang buruk. Di sisi lain, wilayah gambut dan lahan kering menghadapi risiko karhutla tinggi saat kemarau.
Analisis: Mengapa Bencana Alam Semakin Sering dan Berat?
Dampak Perubahan Iklim dan Variabilitas Cuaca
Pola cuaca ekstrem hujan deras tiba‑tiba, angin kencang, gelombang panas menjadi semakin sering. Ketika drainase tidak memadai, banjir pun cepat terjadi. Ketika musim kemarau terlalu panjang dan suhu tinggi, risiko karhutla meningkat. Faktor iklim global seperti El Nino/La Nina turut mempengaruhi.
Dalam banyak kejadian tahun ini, banjir menjadi jenis bencana dengan jumlah tertinggi lebih dari seribu kejadian menunjukkan bahwa aspek hidrologi dan tata kota perlu mendapat perhatian serius.
Kelemahan Infrastruktur dan Tata Kelola Lingkungan
Banyak wilayah dengan infrastruktur yang kurang memadai: saluran air tersumbat, sungai yang dipenuhi endapan, daerah aliran sungai yang dipangkas atau dibangun secara tak terkendali. Kota‑kota besar dan pinggiran mengalami banjir parah karena kombinasi hujan tinggi dan drainase tak siap.
Karhutla juga tak bisa dilepaskan dari praktik manusia: pembukaan lahan, pengeringan gambut, aktivitas pembakaran. Beberapa provinsi mencatat ribuan hektare lahan terbakar hingga September tahun ini. Faktor pengelolaan lahan, penegakan hukum, dan pemantauan tetap menjadi ujian.
Kerentanan Sosial dan Ekonomi
Dampak bencana bukan hanya kerusakan fisik. Masyarakat yang paling rentan di daerah pinggiran, kawasan bantaran sungai, lahan gambut yang dibuka—menjadi paling terdampak. Ketika rumah rusak, penghasilan terganggu, anak‑anak kehilangan sekolah, maka efek domino sosial muncul.
Korban mengungsi jutaan orang menunjukkan bahwa kapasitas tanggap darurat dan pemulihan masih harus diperkuat. Di saat yang sama, beban ekonomi sangat besar—sementara sumber daya belum menyebar merata ke semua daerah.
Dampak: Dari Individu hingga Kebijakan Publik
Kehidupan Masyarakat dan Ketahanan Lokal
Ketika banjir berulang, masyarakat terpaksa menyesuaikan gaya hidup: menyiapkan bagasi siaga, menjauhi lokasi rawan, mengatur ulang anggaran rumah tangga untuk perbaikan rumah rusak. Di daerah gambut, karhutla menyebabkan kabut asap, menurunkan kualitas udara, memunculkan masalah kesehatan pernapasan dan mata.
Sulitnya akses ke bantuan, evakuasi dan pemulihan memperlihatkan kesenjangan. Di beberapa daerah terpencil, penanganan bencana lambat karena logistik dan informasi yang terbatas.
Ekonomi dan Infrastruktur Nasional
Kejadian berulang membawa beban ekonomi besar — baik langsung berupa rusaknya rumah, fasilitas publik, maupun tidak langsung berupa gangguan produktivitas, kesehatan warga, dan biaya tanggap darurat. Kerugian nasional akibat bencana cuaca dan alam telah mencapai triliunan rupiah.
Infrastruktur seperti jalan, jembatan, sistem drainase, tanggul banjir, harus diperkuat. Hanya kondisi fisik yang kuat tidak cukup — juga dibutuhkan governance yang baik, sistem pemantauan dan kesiapsiagaan aktif.
Kebijakan, Institusi, dan Sistem Penanggulangan
Data yang mengungkap ribuan kejadian bencana menjadi alarm: bahwa sistem penanggulangan bencana nasional perlu diperkuat. Kebijakan siaga darurat, sistem peringatan dini, koordinasi antara pusat‑daerah, serta penegakan pengelolaan lahan menjadi sangat penting.
Namun realitas menunjukkan bahwa banyak tantangan: kurangnya dana di daerah, kapasitas manusia terbatas, serta koordinasi yang belum sempurna. Ini berarti reformasi institusi dan fokus ke mitigasi bencana tak boleh ditunda.
Opini: Apakah Kita Siap Menghadapi “Normal Baru” Bencana?
Potensi dan Kesiapan
Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati bencana alam di Indonesia, saya melihat bahwa kita memasuki fase di mana “bencana besar” bukan lagi hal insidental — melainkan bagian rutin dari siklus alam dan iklim yang berubah. Karena itu, kesiapan bukan hanya soal pemulihan tetapi soal mitigasi dan adaptasi.
Potensi kita besar: data semakin tersedia, teknologi pemantauan makin maju, masyarakat semakin sadar. Jika sistem ini dimanfaatkan secara serius, maka kita bisa menurunkan dampak dan mempercepat pemulihan.
Area yang Perlu Diperkuat
- Kesiapsiagaan lokal: komunitas yang tinggal di daerah rawan perlu pelatihan, penyuluhan, dan jalur evakuasi. Banjir atau longsor jangan lagi jadi kejutan.
- Pengelolaan lahan gambut dan hutan: karhutla yang terjadi karena faktor manusia tidak cukup dihentikan dengan pemadaman saja — melainkan dengan pengelolaan jangka panjang.
- Tata kota dan drainase: kota‑kota besar harus memiliki sistem drainase yang tahan hujan ekstrem dan banjir kilat.
- Pendanaan berkelanjutan: anggaran untuk mitigasi dan adaptasi bencana harus menjadi bagian rutin, bukan hanya saat ada kejadian besar.
Refleksi Kebijakan Publik
Kebijakan bencana selama ini sering berfokus saat sudah terjadi — reaktif bukan proaktif. Tahun 2025 menampilkan bahwa reaktivitas tidak cukup. Pendekatan yang harus diambil adalah mitigasi risiko: zona‑risko tinggi harus dipetakan, regulasi pengembangan lahan harus ketat, sistem peringatan dini harus aktif.
Sebagai negara yang termasuk tiga besar paling rawan bencana, kita harus berbuat lebih dari “bertahan” — kita harus “menjadi tangguh”.
Rekomendasi Strategis
Untuk Pemerintah dan Lembaga Kebencanaan
- Memperkuat sistem peringatan dini berbasis cuaca, satelit, dan sensor lahan gambut.
- Memprioritaskan investasi dalam mitigasi — misalnya pembenahan sungai, penahanan air hujan, pembasahan kembali lahan gambut.
- Memastikan anggaran mitigasi/adaptasi tersedia dan dipergunakan secara transparan di daerah rawan.
- Meningkatkan koordinasi lintas‑sektor: lingkungan, kehutanan, kota, dan kesehatan.
Untuk Masyarakat dan Komunitas Lokal
- Membangun kesadaran bencana: jalur evakuasi, identifikasi zona rawan, simpanan pangan dan air.
- Mengadopsi gaya hidup yang lebih adaptif terhadap iklim: mengurangi pembukaan lahan, memelihara vegetasi, menjaga kawasan hulu sungai.
- Ikut serta dalam kegiatan tanggap darurat lokal dan pemulihan lingkungan.
Untuk Dunia Bisnis dan Infrastruktur
- Mempertimbangkan risiko iklim dalam investasi: pembangunan di dataran banjir, lahan gambut, atau zona longsor harus dihindari atau diperkuat.
- Perusahaan dan developer harus menerapkan standar lingkungan dan mitigasi bencana sebagai bagian dari bisnis model.
- Asuransi dan pembiayaan bencana harus dikembangkan agar pemulihan bisa cepat dan adil.
Kesimpulan
Angka‑angka tahun 2025 menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan bencana alam yang sangat besar — dengan ribuan kejadian, ratusan korban, dan jutaan yang terdampak. Namun, tantangan itu juga membuka peluang besar untuk berubah: dari negara yang bereaksi terhadap bencana menjadi negara yang siap dan tangguh terhadap bencana.
Kita tidak bisa mengubah musim atau gempa, tetapi kita bisa mengubah cara kita merespons — mulai dari infrastruktur, kebijakan, komunitas, hingga kesadaran bersama. Jika upaya mitigasi dan adaptasi dijalankan dengan sungguh‑sungguh, maka bencana bukan lagi sekadar ancaman tetapi bisa menjadi pemicu transformasi: masyarakat lebih sadar, sistem lebih responsif, dan negara lebih kuat untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
Mari kita jadikan pengalaman tahun ini sebagai pembelajaran dan momentum — bukan sekadar untuk pulih, tetapi untuk menguatkan pondasi ketangguhan bangsa.